Jumat, 29 Januari 2010

Ahamiyatud Da'wah; Revolusi Otakmu !!!

Sebuah roket percobaan yang Cuma sekedar bacaan santai untuk merefresh cerebrum para pejuang islam. Bukan untuk menasehati kalian semua tentang fondasi substansial da’wah itu, tapi ini Cuma sekedar otokritik bagi diriku sendiri karena aku sadar ilmu ku hanya sebesar inti atom yang sudah pecah menjadi sejuta bagian. Pahami ini sebelum teriakanmu menggetarkan musuh, ingatlah ini sebelum selebaran-selebaran gelapmu memecah kekakuan perjuangan dan sebelum politisasi strategi kau susun untuk menegakkan syariat.

Untuk mengetahui pentingnya Fiqh Da'wah bagi para aktifis, maka kita harus memahami dulu apa itu fiqh da'wah, mustahil kita bisa memahami seberapa besar pentingnya sesuatu, sebelum kita mengenali apa sesuatu itu. Selain itu, da'wah bukan hanya tugas mereka yng bersorban, kita-kita yang masih anak kencur bin dangkal ilmunya ini pun mesti berda'wah sesuai kemampuan kita. Yah minimal tempel-tempel selebaran atau dengan note ini. Semoga setiap untaian huruf ini dibaluti keikhlasan dan kerendahan hati. Selamat menyelam di lautan ide.

Ta'rif Fiqh Da'wah

Fiqh Da'wah ( ) terdiri dari dua kata fiqh dan da'wah.
1. Fiqh Faqaha - Yafqahu - Faqhan artinya al fahmu, memahami, mengerti, pengertian ini lebih tinggi dari alima, yang berarti mengetahui.
2. Da'wah Da'a - Yad'u - Da'watan artinya menyeru, mendorong, memanggil, memohon dst.

Ada bebarapa mafahim terhadap kata Da'wah ini :
1. Mafahim Lughatan (bahasa).
a. Da'a , Da'a ahmadun ilaa aminah, artinya memanggil, mengajak.
b. Ad Du'a, Ad Du'a ila syai'in, artinya menyeru , mendorong.
Pengertian ini mencakup yang haq maupun yang bathil:
• Q.S. Yusuf : 33
" Wahai Tuhanku penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.."
• Q.S. Al Mu'min : 41
"Hai kaumku, bagaimana kamu ini, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka…"

2. Mafahim Istilah
Da'wah, artinya sebuah aktifitas yang berusaha untuk mengajak atau menyeru manusia dengan perkataan dan perbuatan kepada Islam, untuk menerapkan manhajnya, meyakini aqidahnya dan melaksanakan syariatnya.

3. Mafahim Harokiyah
Da'wah, Sebuah upaya yang tertata rapi, dengan manhaj yang rabbani, langkah-langkah yang terprogram, kaedah-kaedah jelas dan bisa menuntun dan target-target yang terukur serta menyiapkan sarana-sarana untuk merealisasikannya. Kaedah-kaedah ini harus jelas sehingga dapat difahami oleh para cendikia maupun orang awam untuk diaplikasikan sesuai tingkatannya.

Dari beberapa ta'rif tersebut dapat disimpulkan bahwa terapan fiqh da'wah secara global tersimpul dalam Q.S. An Nahl : 125 dan Q.S. Fushilat 33-35.
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziy mengatakan, "Allah Swt telah menjadikan Maratibud Da'wah (prioritas/tahapan da'wah) sesuai dengan Maratibul Khalqi (tingkatan Mad'uw). Seseorang yang mau menerima Al Qur'an dan tidak maenentang kebenarannya, kita da'wahi dengan Hikmah. Dan bagi orang yang menerima da'wah namun masih sering lalai maka kita da'wahi dengan Mau'idzah Hasanah yakni, perintah dan larangan yang disertai targhib wa tarhib. Adapun orang yang tidak percaya dan cenderung menentang, mereka kita ajak berdebat dengan cara yang baik. Sehingga Manhaj Da'wah itu meliputi fikrah dan terget serta sarana untuk merealisasi target dan ushlub da'wah.

Oleh karena itu seorang da'i harus memahami ke arah mana kita akan mengajak manusia dan bagaimana cara mengajaknya, apa sarana yang diperlukan, hingga jalan da'wah itu terasa mudah bagi orang yang melaluinya, tidak kabur rutenya dan tidak pula menyesatkan atau menggelincirkannya.

Dari sini kita baru bisa menyimpulkan bahwa memahami Fiqh Da'wah merupakan sebuah keniscayaan bagi para aktivis da'wah.


Ada bebarapa alasan mengapa Fiqh Da'wah itu sangat penting:

1. Karena Da'wah adalah amanah dan kewajiban yang berat.
Nasib akhir perjalanan manusia seluruhnya baik dunia maupun akhirat tergantung kepada Rasul dan para pengikutnya (da'i ), serta berdasarkan sejauh mana mereka melakukan tabligh kepada manusia, sehingga manusia akan memperoleh kebahagiaan atau kesengsaraan didunia dan akhirat.
Sehingga para Rasul merasakan betapa besar tugas yang dibebankan kepada mereka, sampai-sampai Rasulullah Saw menangis ketika membaca Q.S bahwa Rasul akan menjadi saksi atas seluruh manusia.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.. (Al Muzamil: 5).

Karena da'wah itu perkataan yang berat maka ia memerlukan pengkondisian dan persiapan serta bekal yang cukup agar perjalanannya senantiasa diridhai Allah.
( Q.S. Al Muzammil : 2-4 ) (Bekal Da'wah dan Da'i nya Bahasan tersendiri).

Da'wah adalah permasalahan yang besar dan agung, karena ia menentukan nasib masusia. Permasalahannya, apakah ia sudah di tunaikan sehingga risalah Islam itu sampai kepada manusia yang kemudian akan menerangi hatinya?, membuatnya bahagia di dunia dan akhirat?, sehingga apabila manusia mengabaikan risalah itu tidak ada lagi hujjah dihadapan Rabb-nya bahwa Islam tidak sampai kepadanya?.

Ini adalah amanah besar yang dibebankan kepada Rasul dan pengikutnya. Para rasul telah menunaikannya, menyampaikan risalahnya kepada segenap manusia, tidak hanya dengan lesannya tapi juga dengan qudwah yang tergambar dalam perbuatan dan jihadnya. Bahkan untuk mengatasi berbagai hambatan dan rintangan, Rasul SAW diberikan kekuatan. "Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan ketaatan itu benar-benar hanya milik Allah… " (Al Baqarah : 193).
Kemudian kewajiban ini dibebankan kepada generasi ke generasi secara estafeta. Tidak ada yang terlepas dari kewajiban ini yakni Iqamatu hujatillahi dan menyelamatkan manusia dari adzab akhirat dan kehinaan di dunia.

Sayyid Qutb mengatakan, " Barang siapa menganggap ringan kewajiban da'wah ini, padahal ia sanggup mematahkan punggung dan membuat orang gemetar, maka ia tidak akan mampu melaksanakan secara kontinue kecuali atas pertolongan-Nya, dan tak kan bisa tsabat kecuali dengan keikhlasan pada-Nya. Karena orang yang berada di jalan ini siangnya shaum dan malamnya qiyam, ucapannya penuh dzikir, hidup matinya untuk Allah Rabbul 'alamin".

2. Da'wah adalah kewajiban syar'i
a. Q.S. An Nahl : 125
b. Q.S. Ali Imran : 104
"Dan hendaklah ada diantara kamu sekelompok orang yang…. "
Jum'ah Amin Abdul Aziz dalam Ad Da'wah Qawaid wa Usshul mengatakan "Ayat ini menunjukkan bahwa da'wah adalah fardhu kifayah, dan bila sudah ada sekelompok orang yang melaksanakan maka ia menjadi fardhu a'in bagi kelompok tersebut, sebagai mana kewajiban itu gugur bagi yang lain. Namun apabila para da'i masih sedikit dan kemungkaran merajalela seperti sekarang ini, maka da'wah menjadi fardu 'ain sesuai dengan kemampuannya".
c. Q.S. Al Baqarah : 159-160
"Sesngguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan yg jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilakanti Allah dan semua makhluk yang bisa melaknat. Kecuali mereka bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itu Aku akan menerima taubatnya, dan Akulah yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang".
d. "Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnyaamat buruk apa yang mereka kerjakan itu". (Q.S. Al Maidah : 63)
Ibnu Jarir Ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa ia berkata: " Tidak ada dalam Al Qur'an suatu ayat yang paling keras dalam mengolok-olok kecuali ayat ini".
e. Q.S. Al Ashr : 1-3
f. Q.S. Ali Imran : 110 (Tentang karakteristik ummat terbaik)
g. Dalam HR Muslim Rasul Saw bersabda, yang intinya:

*

*

Dari berbagai hujah ini semuanya menunjukkan betapa da'wah ini merupakan kewajiban setiap muslim (tabligh). Dan untuk menunaikan suatu kewajiban, diperlukan ilmu, pemahaman aterhadap kaedah-kaedah, manhaj, uslub dan qudwah dalam aplikasinya.

3. Da'wah adalah Nikmat yang besar.

Islam (hidayah) adalah nikmat yang paling besar, karena ia merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan hakiki yaitu syurga. (lihat Tarbawi Edisi 11 tahun II hal 6-11).
Hanya dengan da'wah, Islam bisa disebarkan kepada seluruh manusia sehingga nikamt itu akan bisa dirasakan juga oleh segenap makhluk Allah.

4. Da'wah bisa menghindarkan adzab masal
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Thurmudzi rasul Saw bersabda yang ma'nanya: "Demi yang diriku dalam kekuasaannya, hendaknya kalian itu berbuat dan mengajak kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, kalau tidak maka Allah akan mengirim suatu bencana, kemudian kalian memohon untuk dilepaskan dari bencana itu, tapi Allah tidak mengabulkannya" (HR. Thurmudzi)

Adi bin Hatim Meriwayatkan dari Yahya bin Ya'mar, ia berkata,"Ketika Ali bin Abi Thalib berkutbah beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya ummat sebelum kalian hancur disebabkan mereka berbuat maksiat, dan mereka tidak dilarang oleh orang-orang alim (pendeta) mereka, maka ketika mereka terus asyik dengan maksiatnya mereka ditimpa oleh siksa. Maka dari itu perintahkan mereka untuk berbuat ma'ruf dan cegahlah mereka berbuat munkar sebelum turun kepada kalian adzab sebagaimana yang pernah turun kepada mereka".

5. Da'wah adalah Kebutuhan Sosial
Mengapa da'wah merupakan kebutuhan soaisl:
a. Manusia memerlukan orang yang menjelaskan perintah dan larangan Allah, sehingga mereka tidak akan disiksa sebelum peringatan itu sampai kepada mereka.
• Q.S. Yasin : 6
"Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai".
• Q.S. Al Isra' : 15
"Dan 3Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul…"
Sehingga merupakan suatu keharusan untuk menda'wahi manusia agar orang yang binasa itu binasa dengan keterangan yang nyata, dan agar orang yang hidup, hidupnya dengan keterangan yang nyata juga," (Q.S. Al Anfal : 42).
b. Karena kehidupan kita diwarnai dengan kerusakan dan maksiat, bahkan para ahli kemaksiatan itu menda'wahkannya kepada segenap manusia.
"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir seperti mereka telah menjadi kafir, lalu kamu sama dengan mereka… " (Q.S. An Nisa' : 89)
"Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian mereka sama dengan sebagian yang lain, menyuruh kepada yang munkar dan mecegah dari yang ma'ruf…" (Q.S. At Taubah : 67).
c. Dengan da'wah kehidupan masyarakat akan menjadi harmonis.
Dengan disebarkannya nilai-nilei Islam (kebenaran), masyarakat akan menjadi tahu mana yang akan merusak dan mana yang akan menjadi maslahat. Masyarakat akan menjadi alat kontrol yang efektif aterhadap pembesarnya, pengusanya, aghniya'-nya dan bahkan ulama-ulama'nya.

Rasul Saw bersabda:
" Apabila kalian melihat ummatku merasa takut kepada aorang yang zalim untuk mengatakan kepadanya " Hai orang yang zalim !."berarti ummat itu telah memberi persetujuan" (HR. Ahmad)

6. Da'wah adalah jalan para Nabi dan Rasul (Jalan yang mulia)

Da'wah adalah tugas utama para Nabi dan rasul dan sekaligus jalanya, apalagi Rasul Saw seluruh hidup beliu adalah untuk da'wah.
"Wahai Nabi.., sesungguhnya Rabb-mu mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan Izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi" (Q.S. Al Ahzab : 45-46)

Da'wah juga merupakan tugas yang mulia karena kalimat yang diserukan adalah kalimat yang mulia.
"Dan siapakan yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepadsa Allah dan mengerjakan amal shaleh seraya berkata " Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri". ( Q.S. Fushilat : 33).

Khatimah

Rasulullah Bersabda:
"Barang siapa yang menunjuki kearah kebaikan maka ia berhak memperoleh pahala seperti pahala yang melakukannya". (HR. Muslim)
"Demi Allah jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui kamu, maka itu lebih baik dari unta merah". (HR. Muttafaqun 'alaih)
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi hingga semut yang ada dalam lubangnya dan ikan-ikan yang ada di laut, semuanya bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia" (HR. Thurmudzi)

Wahai para da'i, meski anda telah menempuh jalan mulia, jalan para nabi dan Rasul, membawa kalimat yang agung, dan memberikan andil untuk menyelamatkan manusia dari siksa dunia dan akhirat, serta menegakkan dan meninggikan kalimatullah. Namun jangan buru-buru untuk berbangga hati dan berbahagia, karena nilai seorang hamba tidak diukur dari seberapa banyak yang ia kumpulkan, tapi sejauh mana ridha Allah, karunia dan Rahmat-nya bisa diraih.

" Katakanlah: " Dengan karunia dan rahmat Allah, hendaknya ia bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Q.S. Yunus : 58)

Keikhlasan, sekali lagi hanya keikhlasan yang akan membawa kepada karunia rahmat dan ridho Allah, untuk itu sertakanlah dalam setiap amal kita nilai Keikhlasan.

Bahan dari dauroh murabbi…
Wallahu a'lam bishshawwab

Tidak ada komentar: