Rabu, 23 Desember 2009

Anamnesis, Obat Paling Mujarab dan Mematikan

Ketika anda periksa ke dokter pasti anda bingung kok si dokter banyak nanya? Padahal kan si dokter sudah tahu banyak tentang berbagai indicator fatologis dan klasifikasi penyakit. Si dokter pun bisa langsung melakukan pemeriksaan fisik maupun langsung ke pemeriksaan laboratorium. Apa si dokter cuma ingin berbasa-basi dengan si pasien ?.

Ternyata, dalam proses usaha penyembuhan yang dilakukan oleh dokter. Proses bertanya kepada si pasien atau dikenal dengan istilah anamnesis merupakan hal yang sangat urgen. Bahkan penegakkan diagnosis rata-rata penyakit 70% dari anamnesis (wawancara), 20% dari pemeriksaan fisik dan 10% dari pemeriksaan laboratorium.

Anamnesis inilah sebenarnya yang menjadi factor penyebab yang dominan dalam hal timbulnya malpraktik. Kesalahan itu pun tidak hanya terjadi karena ketidaktelitian si dokter namun membuka peluang juga kesalahan bersumber dari pasien sendiri karena tidak akuratnya penyampaian gejala yang dirasa kepada dokter dengan keadaan yang sebenarnya yang dialami oleh si pasien.

Dokter itu ibarat sang detektif yang mengorek informasi sebanyak mungkin (tapi tepat dan efektif waktu) dan sejelas mungkin ingin mendapatkan gambaran keadaan si pasien. Teknik-teknik khusus pun seyogyanya dimiliki oleh dokter dalam rangka mengambil informasi dan si pasien jangan malu-malu untuk memberikan fakta karena si dokter sudah terikat sumpah janji untuk menjaga privasi pasiennya.

Ketika melakukan anamnesis, si dokter sepantasnya menunjukan empati dan simpatinya kepada si pasien, jangan sampai terkesan sok sibuk. Walaupun faktanya para dokter itu biasanya super sibuk.hal itu bertujuan agar si pasien merasa dihargai kedatangannya, bukan dipandang sebagai orang yang meminta-minta untuk diobati. Memandang mata pasien pun sebenarnya merupakan kegiatan yang sangat berpengaruh terhadap keyakinan untuk mempercayai hasil anamnesis karena dari mata pasien terpancar sinyal apakah yang dikatakannya benar begitu atau sedikit dipoles oleh pasien agar tdak malu. Sebenarnya , penunjukan empati tadi juga berfungsi agar terjalin keakraban antara pasien dan dokter sehingga anamnesis jadi lancer, yakni ketika anamnesis berproses seperti obrolan biasa, mengalirnya tanpa dicampuri rasa canggung dan grogi.

Realitas yang ada di Indonesia, ternyata anamnesis ini biasanya dilakukan sangat singkat, seakan-akan dokternya sudah seperti paranormal yang mengetahui pikiran pasien dan lebih menitik beratkan diagnosis dengan pemeriksaan fisik. Padahal pemeriksaan fisik itu hasilnya subjektif dari kaca mata dokter yang bersangkutan bukan berdasarkan data langsung dari pasien yang mengalami penyakit. Mungkin pula dokter melakukan anamnesis cepat dikarenakan masih banyaknya pasien yang menunggu, belum lagi karena dokternya yang praktik dari satu klinik ke klinik lain. Sehingga seakan-akan tanpa pemeriksaan yang cermat dan teliti sudah bisa “dengan yakin” menegakkan diagnosis dan menuliskan resep. Itulah realitas dokter di Negara yang berkembang ini. Mungkin karena dirasa penghasilan yang masih rendah sehingga si dokter praktik dari satu tempat ke tempat lain sehingga proses anamnesis dilakukan dengan cara biasa dan dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya”. Berbeda dengan dokter yang ada di Negara maju, mereka sudah dibatasi jumlah pasien yang diperiksa setiap harinya dengan penghasilan yang tinggi sehingga anamnesis bida dilakukan dengan “khusyuk”.

Masalahnya juga, ketika dokter yang bersangkutan sering loncat praktik, yakni dari klinik ke klinik sebagai tuntutan profesi. Hal itu menyebabkan stamina dan batin dokter semakin diporsir, tentu hal tersebut mengurangi kualitas dokter dalam anamnesis. Ditambah banyaknya pasien yang antri, mungkin anamnesis yang dilakukan sambil lalu saja untuk mendapatkan data yang dirasa paling umum bukan untuk mendapatkan data secara komprehensif

Bagi pasien, agar tidak terjadi malpraktik, maka harus berinisiatif memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada si dokter. Hal itu bertujuan agar penyakit yang dialami si pasien dapat diidentifikasi dengan tepat.. Berdasarkan Macleod’s Clinical Examination dalam Kurtz (1998) data standar yang harus diketahui dan dipahami dokter saat anamnesis adalah :
Radiation, tentang sampai di daerah mana rasa penyakit itu terasa
Character, tentang karakter sakitnya apakah nyeri, berdenyut-denyut atau nyeri terus-menerus
Severity, terkait dengan derajat nyerinya. Apakah nyeri sekali atau sdang-sedang saja
Duration, meliputi lama rasa yang timbul
Frekuensi, terkai derajat keseringan timbulnya rasa sakit tersebut dan disini juga bisa dimasukan sejak kapan hal yersebut timbul
Aggravating and relieving factors, tentang apa saja yang membuatnya kumat dan reda
Associated phenomenon, berkaitan dengan keluhan lain yang menyertai keluhan utama

Sehingga muncullah hubungan yang tepat antara pasien dan dokter dalam bersama-sama saling membantu untuk ketepatan diagnosis agar penyembuhan dapat dilakukan secara maksimal. Jangan takut untuk memberikan info kepada dokter karena dokter sudah bersumpah untuk menjaga privasi pasien. Malpraktik bukan terjadi hanya karena kesalahan dokter, si pasien pun bisa memunculkan peluang terjadinya malpraktik. Oleh karena itu bicaralah dengan dokter sampai mempunyai persepsi yang sama mengenai rasa sakit yang diderita. Anda turut menentukan kesembuhan anda.
Tak lupa, anamnesis juga bisa dijadikan sebagai media para dokter untuk berdakwah.caranya? para dokter bisa memberikan nasehat-nasehat yang syar’I, seperti jangan lupa shalat tepat waktu, jangan lupa sedekah dalam proses penyembuhan, jaga pandangan, shalat malam dan lain-lain, bahkan dokter bisa menanamkan ideologis qur’aniy lewat susunan-susunan kata yang renyah. Pokoknya jangan sia-siakan kesempatan anamnesis tersebut untuk menambah investasi pahala kita dengan ikhlas untuk menggapai ridho-NYA. insyaALLAH
Hidup Dokter Muslim !!!


Mohon masukannya...

Tidak ada komentar: